Emak Gue Lebay

​Emak Gue Lebay

Gue selalu percaya, bahwa salah satu tujuan seseorang hadir di dunia ini, salah satunya adalah sebagai ujian bagi orang lain. Termasuk gue.

Yap, gue adalah ujian bagi orang-orang di sekitar gue. Terutama bagi emak.

Selain bersusah payah mengandung dan menjaga gue selama sembilan bulan, ujian emak selanjutnya adalah saat akan melahirkan gue.

Hampir dua puluh enam tahun yang lalu, emak harus berjuang antara hidup dan mati gegara gue lahir sungsang. U know sungsang? Itu tuh, kalau biasanya bayi mah lahir kepalanya duluan, ini gue kebalik, kakinya yang maksa keluar duluan. 

Dulu bayi sungsang mah nggak bisa kayak sekarang yang bisa dengan mudah dicesar. Lha boro-boro cesar, lahirannya aja dma dukun beranak, bukan dokter.

Nggak kebayang dah gimana menderitanya emak waktu itu. Pantes aja kalau gue hiperaktif emak jadi senewen. Lha gue nyusahin dari sebelum lahir ternyata. Hiks.

Nggak cukup sampe di situ, ternyata Allah yang Maha Baik ingin menguji kesabaran ortu gue. Gue pun ditakdirkan hidup penyakitan. Nggak jelas sakitnya apa. Yang jelas, emak sama bapak yang super sibuk nguli itu harus meluangkan waktunya secara bergiliran untuk nganterin gue berobat ke dokter yang tempat praktiknya jauh di kota. Jadi dua pekan atau sebulan sekali mereka harus meliburkan diri dan nganterin gue kontrol.

Waktu itu gue sebel banget sama emak. Berbeda sama bapak yang setiap habis kontrol pasti mau ngejajanin gue es campur atau bakso terminal yang endesss banget (dengan catatan emak nggak boleh tahu), emak gue malah ngelarang gue beli ini dan itu. Boro-boro deh es campur, pokoknya lagi sakit ya harus ngikutin saran dokter. Titik. *Khas orang goldar A beud dah yak, ngikutin aturan.

Belakangan gue tahu kalau kasih sayang emak dan bapak itu sama besarnya, hanya beda penyampaiannya.

Emak gue juga berbeda banget dengan emak temen-temen gue kebanyakan. Mungkin karena gue keluarga besar, jadi emak-bapak mah nggak sempet ngemanjain gue dan anak-anaknya yang lain.

Boro-boro dimanja, ngaduin ini-itu setiap kali ada masalah sama temen-temen aja nggak pernah, kita mah ada masalah ya hadapin sendiri. Sempat juga dulu, pernah sekali mau ngadu pas ada yang nakal sama gue, eh keburi dibully sama kakak-kakak gue. Nggak jadi dah nggak jadi.

Emak-bapak gue memang berpendidikan rendah, nggak bisa ngaji dan masih belum bener shalat wajibnya, tapi mereka selalu ngomelin anak-anaknya kalau sampe kita ada yang bolos ngaji. Bahkan emak-bapak rela bergantian ngejemput gue di tempat ngaji karena jarak antara tempat ngaji dan rumah cukup jauh serta harus melewati kuburan. Ya daripada anak mereka nggak ngaji kan ya …

Eh ya, jangan dipikir ngejemputnya pake motor atau mobil ya. Jemputnya mah dulu jalan kaki. Motor masih jadi barang mewah kala itu.

Yah, sementara di tempat lain, banyak temen-temen gue yang ortunya kaya, berpendidikan tinggi, ngemanjain anak-anaknya, tapi malah lalai dengan pendidikan moral dan spiritual anak-anaknya. Walhasil, nggak sedikit juga temen-temen seumuran gue waktu itu yang nggak bisa baca Al-Quran. Karena ortu mereka lebih menuntut prestasi mereka di pendidikan formal. Asal dapat juara, hebat!

Lagi-lagi Gue musti banyak-banyak bersyukur memiliki mereka

Meskipun dulu gue dan emak sering berselisih paham, tapi emak sekalipun nggak pernah ngungkit-ngungkit gue yang dari dulu nyusahin, gue yang penyakitan, gue yang kalau nangis orang sekampung bisa bangun, gue yang … begini dan begitu. Nggak pernah. 

Hingga akhirnya gue dan emak harus tinggal berjauhan, emak mulai berubah. Emak mulai lebay.

Segala cara emak lakukan untuk menyampaikan perhatiannya ke gue. 

Mulai dari nelpon rutin, nanyain kabar dan sebagainya. Bahkan pernah suatu ketika emak sakit dan harus dirawat di rumah sakit provinsi, pas gue pulang dan mengunjungi emak, apa coba yang emak gue lakukan?

Dengan raut  khawatir emak ngeliat wajah gue sambil bilang:

“Ya Allah, kamu kok sekarang jerawatan sih. Badan kamu kok kurus sih?”

Whooot??? Mak!!! Sumpah gue kesel banget dengan ke-lebayan emak.

Waktu itu emak yang sakit, harus dikemo, disinar, dan emak masih sempet-sempetnya ngebahas jerawat gue yang cuma nongol beberapa biji doang?

Oh Mak!!! Gimana gue nggak nangis dengan segala ke-lebayanmu itu Mak? Nangis karena punya emak yang lebih mengkhawatirkan jerawat anaknya ketimbang dirinya yang sedang berjuang melawan sakitnya sendiri?

Sampai saat ini emak gue masih dan semakin lebay. Setiap kali tahu gue sakit, langsung nelpon. Setiap kali tahu gue kenapa-kenapa, langsung telpon. Pokoknya biar dikata gue cuma batuk pilek, pasti emak langsung nelpon dan nanyain kabar dengan nada khawatir.

Ya Rabb … Emak. Kasih sayang, perhatian, dan do’a-do’a terbaiknya nggak pernah absen buat gue dan anak-anaknya. Sementara gue anaknya yang dari dulu selalu nyusahin masih belum bisa ngasih apa-apa.

Maafkan anakmu ini ya Mak. Anakmu yang diam-diam selalu merindukan ke-lebayanmu.

Salam sayang buat emak, yang entah akan tahu tulisan ini atau nggak. 

Karena emak gue nggak main sosmed.

Dear, Kamu

Dear, kamu

Salah satu partner in crime yang meskipun sering ngeselin dan bikin jengkel tetapi tetap aja aku sayangi. 

Yaya, aku juga gitu kan buat kamu? *LOL

Aku cuma mau bilang, bahwa lebih baik melihat kamu bersabar menunggu lebih lama sampai pangeran yang tepat datang menjemputmu, daripada melihatmu menikah ‘tepat waktu’ tetapi mengorbankan perasaan kamu dan keluarga kamu.

Lebih baik melihatmu untuk bersabar menanti sedikit lebih lama lagi, meskipun aku juga tahu bahwa kamu pasti juga ‘cemburu’ saat melihat teman seangkatanmu hampir semuanya sudah berkeluarga. Bahkan, ada juga dari mereka yang sudah dikaruniai malaikat-malaikat kecil yang lucu dan menggemaskan seperti aku. #ehh

Ketika tiba-tiba kamu menghubungi dan menanyakan pendapatku tentang keberlangsungan prosesmu yang sepertinya kurang berjalan lancar, aku sengaja meminta kamu menjelaskan semuanya secara detail. Aku hanya tidak ingin memberikan masukan yang salah.

Maaf sudah membuat dirimu menahan tangis di seberang sana. Setidaknya aku jadi tahu, bahwa yang memberatkan hati kamu adalah karena masalahmu bukan tentang si dia, tetapi ibunya.

Tidak perlu terlalu naif untuk menyimpulkan semuanya, bahwa ibu dari lelaki itu tidak terlalu menyetujui proses kalian. Dimulai dari beliau yang tidak bekerja tetapi selalu mengatakan sibuk setiap kali akan diajak ke rumah untuk ta’aruf keluarga, hingga saat beliau datang ke rumah terlihat acuh tak acuh, seolah menyepelekan keluargamu dengan ucapan dan bahasa tubuhnya. Hal itu juga yang kemudian membuat orangtuamu agaknya berat menerima pinangannya, belum lagi keluargamu yang lain turut menyaksikan sikap ibunya terhadap orangtuamu. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah menuntut apa-apa dari si dia. Mereka hanya khawatir, jika prosesmu ini berlanjut, keluargamu kelak akan tidak bahagia. Meskipun kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi keluargamu itu juga berhak mengupayakan yang terbaik untukmu kan?

Aku memang bilang, bahwa menikahi seorang anak tunggal dari seorang single parent memang ada ujiannya tersendiri. Karena belum tentu semua ibu siap ‘berbagi’ hati anak kebanggaannya. Buah hati yang sejak kecil berada di sisinya. Meskipun katanya kelak kalian akan tinggal satu atap dengan ibu mertua, tidak lantas membuat urusan ‘berbagi’ hati itu beres begitu saja kan?

Ya, kita sama-sama tahu hal itu.

Tentu saja tidak semua orangtua seperti itu. Hanya saja, kondisinya begitulah yang tengah kamu hadapi. Si dia terlihat tak berkutik di hadapan ibunya. Sementara kita sama-sama tahu bahwa surga anak lelaki hingga akhir hayat, selamanya akan berada di telapak kaki ibu. 

Aku pun berterus terang khawatir kelak rumah tangga kalian akan dirumitkan oleh konflik bathin dengan mertua. Sebab, begitulah yang aku saksikan langsung dan kudengar dari orang-orang yang rumah tangganya tidak direstui oleh orang tua mereka. Banyak hal sederhana yang kemudian menjadi rumit karena harus menghadapi keluarga sendiri.

Mungkin juga jika sudah ada cucu maka hati orang tua akan luluh, tapi aku juga tidak sekali dua menyaksikan bahwa hadirnya buah hati tidak mampu merubah apapun.

Bukan aku tidak mempercayai ketangguhnmu, bukan. Aku tahu kamu menyukai tantangan. Bisa saja kita berpositif thinking dan menjadikan masalah ini sebagai lahan dakwah. Tapi maaf, lagi-lagi aku harus jujur bahwa aku memang berat kali ini. Sebab yang akan kamu hadapi kelak adalah sebuah janji suci, sebuah ikatan yang tidak bisa sesuka hati kamu tinggalkan kala merasa tak mampu lagi menghadapinya.

Itu sebabnya, aku sampaikan pendapatku bahwa lebih baik mengakhiri prosesmu. 

Meskipun begitu, tetap aku sarankan agar kamu tetap istikharah terlebih dahulu, meminta jawaban kepada Rabb kita. Tentu saja harus begitu, ini kan urusan hati. Hanya pemilik hati pula lah yang dapat menunjukkan satu-satunya kebenaran. 
Semoga apapun pilihan kamu nanti, itu adalah pilihan yang terbaik ya.

Jodoh kita, pasti akan datang di waktu dan tempat yang tepat. Tak peduli sebanyak apa proses yang sudah kamu lalui, yakinlah hanya yang terbaik yang akan benar-benar mendapatkan kamu. Berjuang bersama kamu, dan menjadi ladang surgamu. Seseorang yang akan bersabar dengan kekurangan dan bersyukur atas kelebihan kamu. Seseorang yang dengannya kalian akan mampu untuk saling melengkapi.
Dear, kamu.

Hingga waktunya tiba, kita sibukkan saja dengan memantaskan diri ya. Semoga jodoh kita yang saat ini entah di mana juga tengah memantaskan diri. Atau bisa juga kan, jodoh kita sebenernya sudah pantas, tapi Allah menunda kehadirannya lantaran melihat kita yang belum pantas untuk dirinya. Who know’s

Dear, kamu.

Bersabar ya … Allah menilai setiap usaha kita kok, jangan cemas 🙂

Menolak LBGT Bukan Berarti Membenci, Tetapi Wujud Cinta

Kaum sekuler yang pro terhadap LBGT selalu mengatakan bahwa siapapun yang menolak LGBT, adalah membenci mereka. Benarkah?

Menolak LGBT Bukan Berarti Membenci, Tetapi Wujud Cinta

Sudah menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan saudaranya jika mereka melakukan kesalahan.

Sebagai warga Indonesia yang mayoritas penduduknya masih beragama islam, tentunya saya miris melihat banyaknya kaum LGBT di negeri ini. Apalagi jika LGBT juga sampai dilegalkan di Indonesia?, astaghfirullah… semoga itu tidak akan pernah terjadi.

Menolak LGBT bukan berarti kami yang heteroseksual membenci para homoseksual. Kebencian kami justru merupakan wujud cinta, agar setiap orang mau kembali berjuang untuk kembali kepada fitrahnya. Ya, Allah menciptakan lakki-laki untuk berpasangan dengan perempuan. Bukan seperti yang dilakukan para kaum LGBT.

Mendukung LGBT berarti mendukung mereka mengingkari kodratnya, mendukung mereka melawan hukum Tuhan, juga berarti mendukung mereka untul mendekati gerbang neraka jahannam. Na’udzubillahi tsumma na’udzubillah.

Perlu diketahui, bahwa ternyata bukan hanya Islam yang melarang LGBT, tetapi agama lain pun juga demikian.

Semoga wujud rasa sayang dan cinta kami kepada para kaum LGBT dapat dipahami oleh mereka.

Artikel selanjutnya:

Pandangan Beberapa Agama Tentang LGBT

Waspada Tampilan Warna Pelangi Pada Poto Profil Facebook

Sebagai bentuk dukungan dan ucapan selamat terhadap dilegalkannya LGBT di Amerika Serikat, facebook mengeluarkan fitur poto profil warna-warni.

Waspada Tampilan Warna Pelangi Pada Poto Profil FacebookSudah hal  umum, kalau banyak orang yang latah dengan hal-hal baru. Sebagai contoh, penggunaan profil facebook yang berwarna-warni ini. Coba tanyakan kepada teman-teman di sekitar kita, apakah mereka mengetahui makna pelangi yang mereka gunakan?. Pasti akan ada yang menjawab tidak.

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, hasan)

Hadits di atas mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, namun sayangnya masih banyak umat muslim yang menyepelekannya. Seperti dalam hal penggunaan poto profil pelangi. Menggunakannya itu berarti sama dengan mendukung kaum LGBT. Dan mendukung LGBT juga berarti melanggar hukum-hukum agama islam yang sudah kita percayai.

Semoga semakin banyak saudara kita yang sadar, bahwa LGBT bukanlah sesuatu yang seharusnya didukung, karena itu adalah sebuah penyimpangan.

Artikel Selanjutnya:

Menolak LGBT Bukan Berarti Membenci, Tetapi Wujud Cinta

Arti Warna Pelangi Bendera Kaum LGBT

Pada awalnya bendera pelangi kaum gay memiliki delapan warna, tetapi Gilbert Baker, mengubahnya menjadi hanya enam warna. Apa artinya warna pelangi di bendera kaum LGBT?

Arti Warna Pelangi Bendera LGBT

Warna awal bendera LGBT adalah delapan, yakni pink, merah, oranye, kuning, hijau, turqoise, biru, dan ungu.

Pada November tahun 1978, ketika Harvey Milk terbunuh, bendera pelangi dipesan dalam jumlah yang besar. Paramount Flag Company akhirnya menjual versi lain karena keterbatasan stok. Yakni bendera dengan 7 warna (merah, oranye, kuning, hijau, turqoise, biru, ungu). Gilbert yang waktu itu masih memproduksi benderanya, akhirnya juga harus menghilangkan warna pink karena kain dengan warna itu susah dicari.

Barulah tahun 1979 bendera pelangi dirubah. Warna turqoise dan pink dihilangkan.

1. Warna Merah: Melambangkan kehidupan
2. Oranye : Melambangkan penyembuhan
3. Kuning : Melambangkan sinar mentari
4. Hijau : Melambangkan alam
5. Biru : Melambangkan harmoni
6. Ungu : Melambangkan Semangat.

Terus, kenapa di Indonesia warna ungu selalu diidentikkan dengan janda sih ya?. #ehhh. Abaikan.

Artikel selanjutnya:

Waspada Tampilan Warna Pelangi Pada Poto Profil Facebook

Sejarah Bendera Pelangi Kaum LGBT

Bagi para netizen, pasti sudah tidak asing lagi dengan simbol pelangi yang kerap muncul di soseial media. Termasuk bendera pelangi kaum LGBT.

Sejarah Bendera Pelangi Kaum LGBT

Seorang seniman kelahiran San Fransisco yang bernama Gilbert Baker adalah perancang bendera pelangi di tahun 1978. Dia diminta oleh seorang politisi gay bernama Harvey Milk membuat bendera yang akan digunakan kaum gay untuk aksi menuntut hak kaum gay. Gilbert yang pada dasarnya juga merupakan seorang gay pun merasa senang dengan tugasnya.

Sebelum ada bendera pelangi, simbol bagi kaum gay adalah segitiga terbalik berwarna pink, yang merupakan penanda yang dibuat oleh Nazi di kamp konsentrasi.

“Segitiga itu datang dari tempat yang sangat negatif dan mengerikan. Kami butuh sesuatu yang dapat mengekspresikan kecantikan kami, jiwa, dan cinta kami,– yang datang dari kami tapi tak diakui,” lanjutnya.
Refinery29, Kamis 25 Juni 2015.

Dibantu oleh 30 orang, dia menjahit dan mewarnai bendera itu. Warna pelangi dipilih karena menurutnya warna tersebut  adalah bagian dari magis alam dan keindahan.

Aksi berlangsung selama satu bulan di San Fransisco, beberapa bulan sebelum kematian Harvey.

Setiap tahun kaum gay merayakan LGBT Pride Month di bulan juni. Dan seiring berjalannya waktu, pada tahun 1986, Asosiasi Bendera Internasional meresmikan bendera pelangi sebagai simbol LGBT.

Akhirnya, semenjak bulan juni 2015, saat MA Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis. Bertepatan dengan perayaan “LGBT Pride Month”, bendera pelangi ini mulai berkibar seantero Amerika Serikat. Bahkan facebook juga turut merayakan pelegalan ini dengan mebuat fitur pengganti foto profil agar berwarna pelangi.

Banzai Amerika!, Banzai penerus umat Nabi Luth!. Semoga Allah memberikan hidayah untuk kita semua. Aamiiin.

Artikel selanjutnya:
Arti Warna Bendera Pelangi Kaum LGBT

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) Itu Apa Sih?

Banyak orang yang ternyata masih belum tahu kepanjangan LGBT. Kebanyakan hanya tahu tentang homo dan lesbi.

LGBT (Lesbian, Gay, Transgender, Biseksual) Itu Apa Sih?

LGBT atau kepanjangan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender tengah menjadi berita hangat semenjak Amerika melegalkan undang-undang pernikahan sesama jenis beberapa bulan lalu. Padahal bertahun-tahun sebelumnya LGBT masih dilarang di sana.

Jika sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kemajuan, maka biarkan saya mengatakan dengan lantang bahwa itu tidak benar. LGBT adalah sebuah kemunduran.

Sekarang coba kita kupas sekilas tentang LGBT ini.

Lesbian : Adalah bentuk penyimpangan orientasi seksual, dimana seorang wanita menyukai sesama jenisnya.

Gay : Adalah salah satu bentuk penyimpangan orientasi seksual, dimana seorang laki-laki menyukai sesama jenisnya.

Biseksual: Adalah sebuah penyimpangan orientasi seksual, dimana seorang lelaki/wanita menyukai dua jenis hubungan seksual, baik dengan laki-laki maupun perempuan.

Transgender : Adalah penyimpangan orientasi seksual, dimana seseorang menganggap atau mengidentifikasikan dirinya bukanlah dirinya. Laki-laki beranggapan bahwa dirinya perempuan, begitupun sebaliknya.

Nah itu sih penjelasan singkat tentang LGBT. Semoga bermanfaat.

Artikel selanjutnya:

Sejarah Bendera Pelangi Kaum LGBT

Same Sex Attraction Menurut Kacamata Islam

Assalamu’alaikum Sahabat… sudah pernah mendengar tentang istilah Same Sex Attraction (SSA)?

Same Sex Attraction dalam Islam

Same Sex Attraction atau ketertarikan orientasi seksual terhadap sesama jenis adalah sebuah kecenderungan seseorang untuk menyukai sesama jenisnya, atau biasa disebut dengan homoseksual.

‘Apakah SSA ini termasuk perbuatan dosa?’

Belum tentu. Kalau hanya orientasinya saja yang menyimpang, dan seorang SSA masih bisa menyimpan hasratnya, bahkan berusaha untuk kembali kepada fitrahnya, tentu ini tidak termasuk perbuatan dosa.

Kenapa demikian?

Karena suatu kejahatan dianggap sebagai sebuah dosa jika sudah dilaksanakan, sementara jika masih sebatas niat, Allah tidak menghitungnya sebagai sebuah dosa.

Sekarang coba bandingkan, jika seorang SSA ini sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, tidak mau memperbaiki diri, menganggap bahwa kelainan orientasi seksualnya sebagai sebuah anugrah, menuruti hawa nafsu, bahkan sampai bermaksiat, perbuatan inilah yang masuk kategori dosa.

‘Kenapa SSA dilarang? Padahalkan itu bukan keinginan seseorang untuk menyukai sesama jenisnya.’

Sebagai seorang muslim, tentunya kita tahu, bahwa setiap manusia terlahir sesuai fitrahnya. Tidak ada yang sengaja Allah ciptakan untuk memiliki kecenderungan SSA.

Firman Allah SWT:

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita” (QS.An-Najm : 45)

Juga dalam ayat-ayatnya yang lain Allah sudah menjelaskan bahwa DIA menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

Semua orang memang berhak menjadi apa ia, tetapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa pertanggungjawaban kepada Allah, juga merupakan tanggungjawab pribadi, tidak bisa dialihkan ke orang lain.

Wallahu a’lam bishawab. Kebenaran selalu datang dari Allah Azza Wa Jalla.

Artikel selanjutnya:

LGBT (Lesbian, Gay, Transgender, Biseksual) itu Apa Sih?

Kisah Nabi Luth dan Kaumnya, serta Kolerasinya dengan Keadaan Ummat Saat Ini

Kisah Nabi Luth dan Kaumnya tentu bukan hal baru lagi buat kita, bahkan sering kita mendengarnya.

Kisah Nabi Luth dan Kaumnya, serta Kolerasinya dengan Keadaan Ummat Saat Ini

Kaum Negeri Sudum, negeri dimana Nabi Luth diutus untuk mensyiarkan agama Allah, adalah kaum yang dilaknat dan diadzab Allah lantaran kegemaran mereka mengerjakan perbuatan keji.

Allah SWT firman:

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf : 80)

Allah menyebutkan bahwa Homoseksual adalah perbuatan faahisyah, yang artinya adalah perbuatan yang amat keji. Tidak tanggung-tanggung, setelah negeri kaum sudum dibalik, kemudian dihujani dengan batu yang terbuat dari tanah yang dibakar. Itu baru balasan mereka di dunia, bagaimana balasan mereka di akhirat?, biarkan itu menjadi rahasia Allah.

Lantas, apa kolerasinya dengan keadaan ummat saat ini?

Seperti yang kita lihat, bahwa kaum Gay, Lesbian, Transgender, dan Biseksual sudah mulai berani muncul di publik, atas nama Hak Asasi Manusia tentunya. Komunitas-komunitas yang dibentuk untuk membenarkan perbuatan menyimpang mereka semakin banyak dan tersebar tersebar diseluruh negeri. Saling mendukung dan menguatkan dalam keburukan. Nilai dan norma agama, adat, budaya mulai dikesampingkan, bahkan tidak lagi dijadikan pedoman hidup yang lurus.

Wallahua’lam bishawab. Semoga adzab yang menimpa kaum Nabi Luth as , tidak akan kembali menimpa umat zaman ini.

Artikel selanjutnya:

Same Sex Attraction Menurut Kacamata Islam

Pendidikan Seksual untuk Anak Sejak Dini

Sobat, mengenalkan pendidikan seks kepada anak sejak dini itu perlu lho. Apalagi di jaman yang serba bebas seperti sekarang ini. Mengapa demikian?

Pendidikan Seks pada Anak Sejak Usia Dini

Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi tehadap anak, adik, atau saudara-saudara kita di luar sana, terlebih anak kecil yang belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Biasanya anak-anak di bawah umur rentan menjadi korban kekerasan dari orang dewasa, termasuk pelecehan seksual.

Ada yang sudah pernah membaca atau mendengar kisah tentang Komal?, anak berusia 9 tahun ini mendapatkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tetangga baru sekaligus kawan lama ayahnya.

Komal lahir di India. Dia tumbuh menjadi anak yang ceria dan berprestasi. Hingga suatu ketika, sahabat lama ayahnya pindah dan menjadi tetangga baru mereka, sebut saja namanya Paman Bakhsi.

Karena memiliki orang tua yang sibuk, dan istri paman bakshi juga sibuk, akhirnya komal sering bermain berdua dengan paman bakshi, karena paman bakhsi juga belum memiliki anak.

Suatu ketika paman bakhsi mengajak komal bermain game, dan disitulah komal mendapatkan pelecehan seksual.

Semenjak saat itu komal menjadi anak yang murung dan pendiam. Guru yang melihat perubahan itu segera menghubungi orang tua komal dan menceritakan kejadian tersebut. Ibu komal pun membujuk komal untuk jujur kepadanya. Setelah ditanya secara halus, barulah komal bercerita sambil air mata bercucuran.

Itu sekilas saja tentang komal. Pasti ada komal-komal yang lain yang kisahnya masih belum diexpose media, atau bahkan belum diketahui oleh orang terdekatnya, kasihan bukan?

Lantas bagaimana jika komal itu adalah orang terdekat kita?, miris bukan?, dan lebih miris lagi jika kita orang terdekat tidak dapat mendeteksinya sejak awal, membiarkan seseorang yang seharusnya kita lindungi memendam rasa sakitnya sendiri.

Pelecehan seksual tidak hanya terjadi kepada anak perempuan saja, tetapi juga kepada anak laki-laki. Banyak juga kan kasus pehopilia yang sudah terjadi di negeri ini?, lantas, apakah kita akan tetap tinggal diam?

Pendidikan seksual sejak dini jelas perlu, agar anak-anak tahu bagaimana cara melindungi diri dari kemungkinan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.

Perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Mari mulai belajar untuk peduli terhadap lingkungan sekitar kita.

Artikel selanjutnya:

Kisah Nabi Luth dan Kaumnya, serta Kolerasinya dengan Keadaan Ummat Saat Ini